TERPILIHNYA ALI BIN ABI THALIB SEBAGAI PENGGANTI UTSMAN BIN AFFAN
Nama lengkap Ali bin Abi Thalib adalah Ali bin Abi Thalib bin Abd. Al-Muthalib bin Hisyam bin Abdi Al-Manaf al-Hisyami al-Quraisyi. Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai orang yang berani, tangkas, jenius, dermawan dan perwira bahkan hamper semua peperangan besar ia ikuti Bersama Rasulullah. Ia juga pernah mempertaruhkan nyawanya dengan menggantikan Nabi di tempat tidur, guna mengelabui kaum Quraisy yang sedang mengepung rumah beliau.
Setelah Ustman bin Affan meninggal, Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah keempat yang menggantikan Usman bin Affan. Ali bin Abi Thalib diawal kepemimpinannya mendapat tantangan dari para pemuka umat Islam. Walaupun begitu Ali bin Abi Thalib tetap menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang khalifah. Berikut adalah berbagai kebijakan yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib :
- Memecat dan mengganti para gubernur yang diangkat oleh Usman, dengan alasan ia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi akibat dari keteladanan dan kelalaian mereka.
- Menarik Kembali tanah yang dihadiahkan Usman kepada kerabatnya, Bani Umayyah dan penduduk lainnya dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara.
- Memakai Kembali system distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana diterapkan oleh Umar.
- Mengikuti dengan tepat prinsip-prinsip Baitul Mal yang telah ditetapkan oleh Abu Bakar.
Ali mendapatkan tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi khalifah, terutama Thalhah dan Zubair dari Mekkah yang mendapat sokongan dari Aisyah, kemudian Ali juga mendapat tantangan dari Muawiyah yang menuduh Ali terlibat dan bertanggung jawab atas terbunuhnya Usman.
Perang Jamal
Thalhah dan Zubair yang mewakili kelompok Mekkah memiliki pengikut di Hijaz dan Iraq yang tidak mau mengakui kekhalifahan Ali. Um al-Mu'minin, Aisyah tidak mencegah, justru membantu Thalhah dan Zubair untuk menggulingkan Ali. Hal ini diduga karena Ali pernah melukai kehormatannya, karena suatu ketika saat Aisyah ketinggalan sendirian di belakang barisan rombongan Nabi Muhammad saw. Ali mencurigainya telah berbuat mesum, maka turun ayat (QS. An-Nur: 11-20) yang memihak Aisyah. Di luar Basrah pada tanggal 9 Desember 656 Ali berperang dan mengalahkan pasukan gabungan dalam pertempuran yang dikenal sebagai perang jamal/ unta karena pada perang tersebut Aisyah mengandarai unta. Thalhah dan Zubair terbunuh, sementara Aisyah kalah perang dan tertangkap. Ali dengan penuh kehormatan memulangkan Aisyah ke Mekah. Dalam perang tersebut kurang lebih sekitar 20.000 pasukan Aisyah tewas terbunuh.
Tantangan kedua datang dari Muawiyah, gubernur Damaskus yang merupakan keluarga dekat Usman. Muawiyah juga tidak mengakui kekhalifahan Ali, menuduh Ali terlibat dalam pembunuhan Usman. Salah seorang pemberontak Mesir yang dating ke Madinah kemudian membunuh Usman adalah Muhammad bin Abi Bakr, anak angkat dari Ali bin Abi Thalib, Ali tidak mengambil Tindakan keras terhadap pemberontak, bahkan Muhammad bin Abi Bakr diangkat menjadi gubernur Mesir.
Dalam upayanya untuk menjatuhkan kekhalifahan Ali, Muawiyah telah melakukan berbagai macam cara, seperti pengungkapan tragedy pembunuhan Usman, Muawiyah melakukan provokasi dengan membawa baju Usman yang berlumuran darah. Lewat orasinya yang hebat dan kelicikannya, Muawiyah berhasil mempengaruhi massa yang kemudian mereka berpendapat bahwa Ali tidak mampu menyelesaikan kasus terbunuhnya Usman, dan bahkan Ali dianggap gagal mengatasi kasus tersebut. Dalam hal ini, Muawiyyah berpendapat bahwa dialah yang paling berhak menuntut atas kematian khalifah Usman, karena dia adalah saudaranya.
Setelah Muawiyah berhasil memprovokasi para penduduk dan kelompok pendukungnya, kemudian Muawiyah segera mengumpulkan para penduduk dan segera mempersiapakan diri untuk memerangi Ali bin Abi Thalib. Dukungan masyarkat dan tentara Syiria sangat dimungkinkan, karena saat masa kekuasaannya di Syiria, Muawiyyah telah berhasil membangun basis tentara militer, di samping berhasil menarik simpati dari penduduk kota tersebut. sehingga ketika Muawiyyah melakukan mobilisasi massa untuk menyerang pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib, masyarakat Syiria memberi dukungan penuh terhadap rencana Muawiyyah.
Muawiyyah selain berhasil mempengaruhi penduduk Syiria juga berhasil mempengaruhi tokoh karismatik yang memiliki massa yang sangat banyak, yaitu Amr bin Ash, dengan tawaran jika berhasil akan diangkat menjadi gubernur. Setelah melihat keseriusan Muawiyyah dalam menolak kekhalifahannya, maka Ali segera mengirim Jarir bin Abdullah al-Bajuli ke Damaskus untuk memperingatkan keseriusan Ali menggempur pasukan Muawiyyah bila ia tetap pada pendiriannya, yakni tidak akan melupakan sumpah setia (bai'at) kepada Khalifah Ali. Akan tetapi, utusan Ali, Jarir bin Abdullah, ditahan dalam waktu beberapa lama. Hal ini, menurut Ibnu Qutaybah, sengaja dilakukan Muawiyyah agar ia dapat melakukan konsilidasi dan konsultasi dengan para pembantunya. Diantara mereka yang terlibat konsultasi itu adalah Amr bin Ash, politisi yang telah dikenal kelicikannya dalam berdiplomasi, selain Atbah bin Abi Sufyan.
Dalam musyawarah yang dilakukan di kediaman Muawiyyah bin Abi Sufyan itu, Amr bin Ash berpendapat bahwa bai'at belum dapat dilakukan oleh Muawiyyah dan masyarakat Syiria sebelum Ali bin Abi Thalib menuntaskan tragedy pembunuhan Usman bin Affan. Bila tidak dapat diselesaikan, maka yang terjadi bukan bai'at melainkan perang.
Untuk kepentingan tersebut, dilakukan koordinasi antara Muawiyyah dengan Amr bin Ash, Namun, sebelum persetujuan kerja sama itu disepekati, ada sebuah tuntutan sebagai bagian dari kompensasi persetujuan tersebut yang diminta Amr bin Ash, yaitu jabatan gubernur Mesir. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya permintaan Amr bin Ash tersebut disetujui oleh Muawiyyah, namun dengan catatan Amr bin Ash harus membantunya untuk tetap mempertahankan kedudukan gubernur Syiria dan menentang kebijakan Ali yang ingin mencopot kedudukan tersebut. bergabungnya Amr bin Ash ke dalam barisan Muawiyyah bin Abi Sufyan menambah kekuatan barisan Muawiyyah yang tidak menyukai kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Usai bermusyawarah, Jarir bin Abdullah, utusan khalifah Ali bin Abi Thalib yang ditahan diizinkan Kembali ke Kufah dengan membawa informasi mengenai penegasan Kembali Muawiyyah menolak mengakui kekhalifahan Ali, sebelum menuntaskan penyelidikan atas tragedy pembunuhan Khalifah Usman bin Affan.
Keputusan hasil musyawarah dari Syiria yang telah dibawa Jarir bin Abdullah al-Bujali telah disampaikan kepada khalifah Ali bin Abi Thalib di Kufah. Ia menjelaskan situasi Kota Damaskus yang telah mengadakan konsolidadi kekuatan untuk menghadapi kemungkinan pahit yang terjadi, misalnya perang. Mendengar informasi itu, Ali bin Abi Thalib berkesimpulan bahwa gendering perang tampaknya telah dibunyikan oleh Muawiyyah, sehingga konflik fisik antara kedua kekuatan tidak dapat dihindari lagi.
Tidak ada pilihan lain bagi Ali bin Abi Thalib dalam menyelesaikan kasus tersebut, kecuali dengan memerangi para pembangkang yang diparkarsai Muawiyyah bin Abi Sufyan. Dengan persiapan sekitar 90.000 orang pasukan, Ali bin Abi Thalib pergi ke Syiria untuk memerangi Muawiyyah. Tampaknya Muawiyyah tidak kalah sigap, ia telah mempersiapkan sekitar 85.000 pasukan untuk menghadang kekuatan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dan akhirnya meletuslah perang Shiffin pada bulan Safar tahun 37 H di sebuah daerah selatan Syiria.